Berkomunikasi
Ada banyak bahasa yang menarik untuk dipelajari. Bahasa isyarat adalah salah satu bahasa yang menarik perhatianku. Nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba aja aku merasa ini bakal berguna suatu saat nanti. Just in case aku ketemu teman Tuli.
Dan akhirnya itu beneran kepake.

Biar kutanya, apa yang akan kamu rasakan saat kamu membaca pesan tersebut? Apa yang akan kamu lakukan kalau kamu ada di posisiku saat itu?
Jujur, pertama kali tatapanku tertuju pada kata “Tunarungu”, aku deg-degan, gemetar, gugup, perasaanku campur aduk. Bukan kasihan, tapi kagum. Beliau tidak perlu dikasihani, mereka sama aja kayak manusia pada umumnya, cuma cara komunikasinya yang berbeda.
Waktu beliau datang dan berkomunikasi dengan bahasa isyarat, aku cuma ngangguk dan senyum karena bahasa isyarat dasar yang pernah kupelajari tiba-tiba hilang gitu aja.
Dengan waktu mepet sebelum sampai ke tujuan, aku mencari tutorial di media sosial–Tiktok bagian premium. (Akhirnya ada hal bermanfaat yang bisa dipelajari di aplikasi anomali ini).
Kucobalah bahasa isyarat “terimakasih” dengan tangan yang gemetar samar, lalu beliau balas “sama-sama” dalam bahasa isyarat. Akupun pergi dengan bangga, tapi dalam hitungan detik rasa bangga itu berubah jadi sesuatu yang bikin aku overthinking. Pakai tangan kanan atau tangan kiri bakal bikin artinya beda nggak, ya?
Tapi, ya udahlah, setidaknya udah berusaha, wkwk.
Oh, ya, sekadar informasi bagi yang belum tau, aku udah cari beberapa informasi tentang istilah panggilan untuk mereka, dan nemu konten anak kecil dengan orangtua Tuli, namanya Joshua. Dia bilang mereka lebih nyaman dipanggil Tuli (T kapital), sementara Tunarungu adalah panggilan yang kasar buat mereka. Tunarungu itu lebih ke perspektif medis. Tuna artinya rusak/kurang/cacat, dan rungu artinya pendengaran.
Termasuk aku, masih banyak orang yang salah paham dan belum tau soal ini. Well, now you know.
Komentar
Memuat komentar…