Lifestyle

Mencoba Dopamine Detox

Ketika hormon bahagia sudah terlalu berlebihan

Waktu kuliah, satu-satunya media sosial yang aku punya adalah Instagram. Sebuah sumber kebahagiaan instan yang jadi pelepas penat, kadang jadi sebuah alasan untuk cari inspirasi yang nyatanya malah jadi awal mula doom scrolling.

Menyia-nyiakan waktu paling depan, bikin tugas belakangan.

Lalu, kutemukanlah istilah asing di telinga; Dopamine detox.

Aku simpulkan…. Ya intinya kuhilangkan sumber dopamine instan itu dengan cara menghapus aplikasi media sosial. Cuma itu. Ga guna juga sih, soalnya cuma dipake buat scrolling meme. Ga ada yang harus di-flexing juga. Dan kebetulan, kebetulan banget nih, memori hapeku udah penuh dan bikin hp ngelag, jadi harus ada beberapa aplikasi yang harus kuhapus.

Hari pertama setelah menghapus media sosial rasanya lega banget. Mode misteriusku kembali bangkit. Ga ada yang tau aku masih hidup atau ngga selama kurang lebih enam bulan. I don’t care about the trend (don’t want to get involved tho). Keseharianku setelah itu cuma kuliah, fokus nugas, hangout tipis-tipis, jajan, istirahat yang cukup. I was literally just living my life. I miss my low life :(

Tapi bosan mulai datang.

Aku.... Scrolling youtube. HAHA.

TAPI, Youtube waktu itu isinya kebanyakan daging; beneran sesuatu yang bermanfaat.

Anyway, karena masih bosan, aku memutuskan untuk melakukan beberapa hal agar mendapatkan kesenangan lain yang bermanfaat; membaca dan menulis. Aku berhasil menamatkan belasan novel online dan beberapa komik online. Aku nemu aplikasi nulis surat secara online yang estimasi kedatangan suratnya bisa berhari-hari. That was the first time I got an international pal dengan bahasa inggris modal google translate. Wow, produktif sekali hidupku waktu itu, dan sepertinya ini lumayan berhasil.

Lalu tibalah saatnya aku harus kembali menyentuh media sosial karena harus mencari data untuk tugas kuliah. Login lewat web, by the way.

And, boom! Ternyata banyak yang DM. Aku buka satu-satu, dan nemu DM tiga bulan yang lalu dari my precious friend yang duduk di pojok dinding kelas, isinya undangan nikah. I’m crying. Merasa bersalah banget.

Saking pengen tenangnya, aku sengaja ga nyimpen nomor WhatsApp temen-temen. Kadang sengaja pengen hilang dari peredaran cuma untuk dapet ketenangan setelah kewalahan dengan kehidupan. Bahkan sampai sekarang rasa itu masih ada.

Deactive akun media sosial lagi apa ya? Hehe.