Rugi Kalau Ditinggalkan
Pernah nggak, satu kalimat sederhana dari seseorang berhasil mengubah cara pandangmu terhadap sesuatu, bahkan bertahun-tahun setelahnya? Aku pernah. Dan lucunya, kalimat itu kudengar waktu aku sedang memilih antara pergi ke mushola atau ke kantin.
Sekolah tingkat menengah adalah tempat di mana para remaja mulai mencari jati diri. Lingkaran pertemanan pun tidak bisa terelakkan. Ada kelompok yang sibuk mengejar dunia, sampai ada kelompok yang belajar menyeimbangkan dunia akhirat. Sementara itu, aku belum mau menentukan. Kadang masih terombang ambing terbawa arus. Tapi untungnya masih ada batu pijakan. Aku masih punya prinsip. Salah satunya adalah…. Ya, sebenarnya aku juga nggak tau, wkwk.
By the way, setiap istirahat pertama, kelasku terbagi menjadi tiga kubu; tim ke kantin, yang bersemedi di kelas, dan tim yang ke mushola. Aku yang mageran ini biasanya lebih memilih untuk tetap di kelas, kadang mengekori teman-teman ke kantin.
Saat di kelas, biasanya aku mengaktifkan mode observasi. Di barisan paling kanan mentok ke dinding, ada kelompok kecil yang sering menyempatkan diri untuk pergi ke mushola untuk sholat Dhuha.
Menarik. Dulu, aku yang masih remaja itu sering bertanya-tanya kenapa mereka lebih memilih ke mushola daripada ke kantin? Kan, sholat sunnah itu nggak wajib, mending ngisi perut di kantin. Sampai suatu hari, waktu aku dan teman-teman sedang jalan menuju kantin, entah kenapa aku malah berbalik arah dan mengikuti teman-teman yang pergi ke mushola.
Saat akhirnya mereka sadar ada anomali yang mengikuti, mereka kaget, aku pun ikut kaget. Tapi untungnya mereka malah senang-senang saja.
Lalu, seolah menjawab pertanyaan yang masih tersimpan di kepalaku, salah satu dari mereka bilang, “nggak melaksanakan sunnah itu nggak berdosa, tapi dengan melaksanakannya, kita dapet pahala. Sayang banget kalo disia-siain. Misalnya, ya, naudzubillah, salah satu sholat wajib kita nggak diterima, kita masih punya pahala dari sunnah yang kita kerjakan untuk menutupinya.”
…. Lah, iya juga, ya.
Hati batuku langsung tersentil. Di saat itu aku baru sadar kalau selama ini aku terlalu melihat ibadah dari sudut pandang “wajib atau tidak wajib”. Aku pikir, kalau tidak wajib, untuk apa dikerjakan? Tapi ternyata aku melewatkan banyak kesempatan untuk mendapatkan pahala.
Kalimat sederhana dari temanku itu memang nggak langsung membuatku rajin melaksanakan sunnah, tapi sejak saat itu, cara pandangku mulai berubah.
Komentar
Memuat komentar…