sepertinya saya sudah tertinggal jauh
Halo semua!
Aku kebetulan ada niat nulis ni terkait hal yang kupikir mungkin beberapa dari kalian juga ngerasain. Ngerasain perasaan yang gimanaa gitu.. agak abstrak. Perasaan yang ngerasa diri nggak seberapa kalo ngeliat temen atau orang lain yang di pov kita terlihat wahh sekali pokonya, seperti ngerasa tertinggal mungkin maksudku.
Kayak pas lagi scroll (doomscrolling maksudku😅), tiba-tiba muncul foto teman lama yang ngasi liat kalo dia travelling ke tempat yang jauh, atau misal ada yang kebeli ini itu-lah, ada yang promosi jabatan-lah, atau mungkin ada yang nikah dan idupnya keliatan jadi makin adem gitu.
Sementara kita? kerjaan itu-itu aja, atau bahkan nggak ada wkwk. Dalem hati, "kok idup gini mulu yaa perasaan" atau "aku kayaknya tertinggal jauh". Nah, aku pengen bahas perasaan yang semacam ini.
Mengapa Kita Sering Merasa Ketinggalan?
Sebenarnya, keinginan untuk membandingkan diri dengan orang lain itu udah ada sejak lama, bukan cuma karena sosmed. Tahun 1954, seorang dukun modern (psikolog maksud ana) yang namanya Leon Festinger bilang kalo manusia itu punya semacam dorongan bawaan untuk menilai diri sendiri lewat perbandingan dengan orang lain, terutama pas nggk ada standar objektif yang jelas. Dulu, patokan kita cuma segelintir tetangga di sekitar kita. Jadi kita tau jelas tetangga kita idup sudah juga kayak gimana. Jadi yaa, perbandinganny nggak jauh beda.
Nah masalahnya, sekarang itu patokannya udah beda. Patokannya sekarang seluruh dunia yang mungkin juga udah diedit sedemikian rupa. Dan otak kita yang masih "setting-an jaman batu" ini masih ngebandingin, yang padahal medannya udah berubah total.
"Jam Sosial" yang Tak Pernah Kita Sepakati
Selain dorongan alami untuk membandingkan, ada satu hal lagi yaitu masyarakat punya semacam ekspektasi diam-diam soal kapan kita "seharusnya" mencapai sesuatu. Psikolog nyebut itu dalam bahasa sasak sebagai "sosial clock", atau jam sosial, semacam kumpulan harapan tentang usia tepat untuk lulus, kerja, nikah, punya rumah, atau punya anak.
Padahal "jam sosial" ini diciptakan di jaman yang ekonominya beda total. Dulu kan lulus SMA langsung kerja, apalah pokoknya yang penting gaji untuk kebutuhan sehari-hari aman. Itu semua masuk akal karena biaya hidup masih sebanding dan pasar kerja juga masih linear (masih banyak lah). Sekarang? Buat dapet kerja layak aja perlu gelar S1 yang makan waktu 4-5 atau bahkan 6 tahun (kalo lu males).
Masalahnya, meskipun kenyataanya udah berubah total. standar "sukses" yang kita pakai otomatis masih kepake dari generasi sebelumnya. Jadi nggak heran kalo kita ngerasa kayak gagal gitu. Kita jadinya sedang ngebandingin hidup di era 2026 dengan peta kesuksesan dari era 1990-an. Itu nggak adil, dan penting untuk disadari kalo perasaan "tertinggal" itu lahir dari gesekan antara realitas sekarang dan juga ekspektasi warisan masa lalu.
Layar Kecil, Perbandingan Tanpa Henti
Nah, di sinilah sosmed memperparah keadaan. Di platform seperti Instagram atau LinkedIn (langsung insekyur gw buka ini), orang cenderung cuma nunjukin versi terbaik dari hidup mereka. Foto liburan, promosi, momen bahagia. Semuanya dikurasi. Yang nggak kliatan tentu hidup yang berantaan dibalik layar kayak capek, utang, pertengkaran, keraguan, dan sebagainya lah.
Namun tentu aku tidak men-generalisir semua orang yang ngepost sesuatu dengan niat pamer atau semacamnya, sehingga membuatku ngeliat hanya dengan pandangan sinisme. Tentu itu juga bentuk ekspresi mereka. Juga pasti ada sebagian yang memang menggunakan instagram untuk berbagi dengan yang lain, entah momen, informasi, atau hal bermanfaat lainnya. Ada juga yang mungkin dengan ngepost hal sederhana bisa ngerasa bahagia, ngeshare meme kayak gw kadang, atau sesuatu yang kaitannya dengan menghina pemerintah (ini menurutku nggak dosa si hehe) bisa sedikit mengurangi keresahan.
Oiya aku juga lupa mention aplikasi itu. Yap Tiktod. Tempat dimana banyak sekali orang yang yakin atau percaya pada sesuatu hanya karena video berdurasi 30 detik-an, dikasi sound, sama dikasi kalimat yang seolah kedengeran bijaklah, kalimat yang sejalan dengan isi hatinya lah (jadi malah membenarkan prilaku buruknya bahkan), atau kata-kata yang lainnya yang membuat penghuni-penghuni aplikasi itu sampai membuat semacam "standar" mengenai sesuatu, atau juga menormalisasikan hal yang sebetulnya keliru (pendek sekali sumbu akalnya jirr).

Agama sama filsuf kalah dah pokoknya😂. Ngga heran sebagian orang (bukan aku) bilang kalo itu aplikasi "sarang monyet" awokwok. Yaa aku juga ngga mengatakan kalo semua user-nya muehe. Balik lagi ke algoritma dan preferensi si user itu mah.
Penelitian meta-analisis yang ngegabungin 48 studi dengan hampir 7.700 orang menemukan satu hal yang konsisten. Yaitu membandingkan diri ke orang yang keliatan "lebih baik" di sosmed (yg bahasa sasaknya upward comparison) bikin kita menilai diri sendiri lebih negatif. Efeknya ya kecil sih emang, tapi nyata, paling terasa itu pada citra tubuh dan harga diri.
Intnya yang kita bandingkan bukan hidup orang lain yang sebenarnya, melainkan momen terbaik yang mereka pilih untuk ditunjukkan, diukur dengan realitas kita yang nggak diedit.
Bukan Sekedar Iri, tapi Cemas
Perasaan "ketinggalan" ini sering disebut FOMO (Fear of Missing out). Tapi riset terbaru bilang FOMO itu lebih ke arah cemas daripada sekedar iri. Kita nggak cuma ngerasa kehilangan momen seru. Kita khawatir kehilangan ikatan sosial dan takut kalo suatu saat ditingal oleh lingkaran pertemanan kita. Itu sebabyua kadang melihat foto kumpul-kumpul teman tanpa ikutnya kita bisa bikin nelangsa, meski acaranya sendiri mungkin nggak seru-seru amat.
Gimana Keluar dari Perasaan Ini?
Aight! Pertama, ingat dulu kalo yang kita liat itu kurasi, bukan realitas. Orang jarang posting saat mereka lagi galau atau lagi nyuci baju kotor atau ngerjain hal yang menurutmu nggk keren lainnya. Apa yang kamu bandingkan itu adalah highlight reel-nya orang lain dengan behind the scences-mu.
Kedua, geser patokan dari luar ke dalam. Alih-alih nanyain "apakah aku ketinggalan?", coba tanya "apaka aku berkembang di hal yang penting buatku?" Ganti jam sosial orang lain dengan jam-mu sendiri. Ukur progres mu dari mana kamu berada di enam bulan yang lalu, bukan dari profil orang lain.
Berikutnya, catat pencapaian kecilmu sendiri. Simpel emang, tapi lumayan ampuh. Punya catatan tentang hal-hal yang sudah kamu lalui bikin fokus itu bergeser dari "apa yang orang punya yang nggak aku punya" ke "sejauh mana aku berkembang".
Terakhir, ingatlah kalo ngebandingin ke atas (liat orang lebih baik) itu adalah "bumbu" yang pailng merusak dalam penelitian. Memotong konsumsi konten yang penuh perbandingan memang berhubungan dengan kesejahteraan yang lebih baik, meski besarnya bervariasi ke tiap orang.
Yaa pada akhirnya perasaan ketinggalan itu emang nyata—tapi garis waktu yang ngebuat itu tidaklah nyata. Kita hidup di sistem yang dirancang untuk ngebuat kita ngerasa tertinggal lalu nyalahin diri sendiri atas perasaan itu. Padahal ngga ada satu jalur pun yang wajib kita ikuti.
Kita kadang lebih ngerasa menderita di dalem imajinasi sendiri, realitanya mah nggak gitu
Aku nulis ini bukan berarti hidupku udah bebas dari perasaan semacam ini. Justru karena aku juga sering ngerasain. Mungkin bedanya cuma aku mulai belajar ngukur diri pake kompas sendiri ketimbang pake peta orang lain.
Gimana menurut klean guis? cemiieuw!!
Komentar
Loading comments…